Wake Up To Reality!
"Kau mendapat yang pantas kau dapatkan."
Kalimat itu terdengar seperti gema dari masa lalu. Sebuah mantera yang diulang-ulang oleh para motivator, para pemenang, dan mungkin, oleh orang tua kita saat mencoba menanamkan etos kerja. Di permukaannya, ia terdengar adil, sebuah hukum karma sekuler yang menjanjikan keseimbangan kosmis: Bekerja keraslah, maka kau akan menuai hasilnya. Bermainlah dengan api, maka kau akan terbakar. Sederhana, bukan?
Namun, semakin kita menavigasi realitas hari ini, di tengah deru notifikasi media sosial dan lonjakan harga kebutuhan pokok yang tak masuk akal, pepatah lama itu terasa semakin usang, bahkan kejam. Ia seperti sebuah lagu pengantar tidur yang dinyanyikan untuk meninabobokan kita, agar tidak menyadari bahwa ranjang kita perlahan-lahan ditarik dari bawah kita.
Pepatah itu ada karena sebagian besar orang itu benar, tapi kuncinya ada pada kata "sebagian besar". Dan di dalam celah "sebagian" itulah terletak jurang ketidakadilan yang kini kita rasakan begitu dalam. Karena kita semua tahu, ada sekelompok orang yang tidak hanya mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan; mereka mendapatkan lebih. Jauh lebih banyak.
Mereka adalah arsitek tak terlihat dari sistem yang kita tinggali. Mereka percaya, atau lebih tepatnya, mereka telah menciptakan sebuah realitas di mana aturan hanya berlaku untuk "orang sepertimu dan aku". Bagi kita, hidup adalah soal berjuang. Berjuang membayar cicilan, berjuang mencari pekerjaan yang layak, berjuang agar tidak tertinggal oleh kereta kemajuan yang melaju semakin cepat. Bagi mereka, hidup adalah permainan strategis di mana papan permainannya adalah hidup kita, dan mereka tidak pernah bisa kalah.
Mereka melakukan ini dari balik bayangan. Namun, bayangan ini bukanlah kegelapan mistis. Ini adalah "bayangan yang kita buat."
Bayangan itu tercipta dari ketidakpedulian kolektif kita. Ketika sebuah kebijakan baru yang menguntungkan korporasi raksasa disahkan di tengah malam, kita terlalu sibuk terperangah oleh skandal selebriti terbaru. Ketika hak-hak pekerja diam-diam diamputasi demi "iklim investasi", kita terlalu asyik berdebat tentang fesyen kalcer di kolom komentar, saling menyerang sesama korban. Kita terbius oleh distraksi, oleh kemarahan-kemarahan kecil yang sengaja disulut agar kita tidak melihat kebakaran besar yang melahap rumah kita bersama.
Atau mungkin, itu bukan hanya bayangan ketidakpedulian, melainkan bayangan kelelahan. Kita lelah. Lelah secara fisik, mental, dan emosional. Kita lelah mengejar fatamorgana "masyarakat kelas menengah" sebuah janji stabilitas yang kini terasa seperti dongeng sebelum tidur. Sebuah status yang pernah menjadi tujuan yang bisa dicapai dengan kerja keras, kini menjadi hak istimewa yang diwariskan atau diraih dengan keberuntungan luar biasa.
Dan sementara kita lelah, mereka terus mengambil. Mereka mengambil keuntungan dari sumber daya alam kita, meninggalkan kerusakan ekologis yang tagihannya akan kita bayar. Mereka mengambil nilai dari tenaga kerja kita, memberikan upah yang nyaris tak cukup untuk hidup, sementara mereka menimbun kekayaan lintas generasi. Mereka terus mengambil hingga yang tersisa bagi kita hanyalah nostalgia kenangan akan masa ketika masa depan terasa lebih cerah, sebelum "perusahaan besar dan uang memutuskan bahwa kita tidak penting lagi."
Narasi bahwa kita tidak penting adalah kebohongan paling berbahaya yang mereka sebarkan. Kita dibuat percaya bahwa suara kita terlalu kecil, aksi kita terlalu sepele. Kita dibuat merasa bahwa kita hanyalah angka dalam statistik, sekrup kecil dalam mesin raksasa yang jika rusak, mudah untuk diganti.
"Tapi kita penting. Kau dan aku, warga negara ini, kita masih penting."
Kepentingan kita tidak diukur dari saldo rekening atau jumlah pengikut di media sosial. Kepentingan kita terletak pada kesadaran kita. Saat kita berhenti menyalahkan diri sendiri karena "tidak bekerja cukup keras" dan mulai mempertanyakan aturan mainnya. Saat kita mulai melihat bahwa tetangga kita yang berbeda pilihan politiknya juga berjuang dengan cicilan yang sama. Saat kita mulai menyadari bahwa kelelahan kita bukanlah kegagalan pribadi, melainkan gejala dari sistem yang dirancang untuk menguras energi kita.
Mengusir bayangan itu tidak memerlukan revolusi bersenjata. Ia dimulai dengan hal yang paling mendasar: perhatian. Memperhatikan apa yang terjadi di luar gelembung kita. Membaca lebih dari sekadar judul berita. Berbicara dengan sesama kita, bukan tentang siapa yang harus disalahkan, melainkan tentang apa yang bisa kita bangun bersama.
Karena pada akhirnya, mereka yang berada di atas hanya bisa tetap di sana selama kita, yang menopang mereka dari bawah, terus menunduk dalam kelelahan dan ketidakpedulian. Saat kita mengangkat kepala kita bersama-sama, mereka akan menyadari bahwa bayangan tempat mereka bersembunyi sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada hanyalah kita jutaan orang yang lelah, marah, namun akhirnya sadar. Dan kita, masih sangat penting.
Komentar
Posting Komentar